1.5.10

Puisi-Puisi Berserakan

Iseng ngebuka-buka template handphone, ternyata banyak banget puisi yang baru diketik setengah jalan.
Ada yang berminat melanjutkan?


Lelah
Aku lelah jadi angin
berputar-putar di pusaran yang sama
mengecil
dan terhuyung-huyung membawa semua beban yang ia pikul sendiri
toh dengan tidak diampun
ia semakin merusak
.
Aku lelah jadi awan 
harus selalu putih
namun tak boleh jatuh di bawah teman-temannya
berlomba mencapai atmosfer tertinggi
padahal nanti pun ia jatuh jua
jadi hujan
.
Aku lelah jadi bukit
sok kokoh menantang langit
sendirian
padahal tak ada satupun pendukung
akhirnya jadi longsor jua
...

Kawan Lama
Tertegun aku menatap
dalam pigura tua
sebingkai gambar bahagia terlukis disana
aku yang renta tersenyum bangga
betapa kalian, yang di dalam sana
telah berhasil dan berbeda
.
Suatu hari kita kan saling melupakan
berjauh-jauhan dan hanya bisa terkenang
.
Tapi sebentuk doa kan selalu tersampaikan
...

Salah
Ada yang salah dengan hatiku
seperti terkoyak mengeluarkan isi-isinya
seperti ada duri di dalam
dan lebih tajam
menusuk-nusuknya perih
hingga darah terciprat
di bagian manasaja darinya
mengoyak dadaku yang terbakar
sebuah lubang menganga tepat di tengah
memperlihatkan tulang rusukku merapuh
luka tak kasat mata yang tak tersembuhkan
.
Ada yang rancu dalam logikaku
masih berpikir rasional tentang yang irasional
...


Well,
kalau dipikir-pikir banyak banget draft gue. Baik puisi, cerpen, dan kawan-kawan. Dan semua itu membuktikan bahwa gue emang rada gak serius sama cita-cita gue.
Come on, tha!
You should be real writer !!!

14.4.10

Puihhh...
Akhirnya bisa online juga setelah perjuangan yang amat sangat ribed untuk ngeganti-ganti IP, tapi gak connect-connect, ampe tanya ke bocah jurusan lain kaya anak dodol bin gaptek, tapi tetep gak connect.
Dan akhirnyaaa...
Dengan kesabaran anak solehah kaya gue (jiaellah)
Akhirnya connect juga internetnyaaa.

Lanjut.

Jadi begini ceritanya (ihiy)
Seperti biasa, hari Kamis adalah hari paling gopoh (panik) buat gue, apalagi hari ini. Kenapa?
Karena semalem gue ada di kampus sampe malem (lagi), dan emang udah semingguan ini kalo gak pulang malem ya tidur malem. Itupun gak pernah tenang tidurnya, kalo gak mikirin kuis, ya mikirin KPP (jiah, sok ngurusin banget yak), dan mikirin kelangsungan karir tulis menulis gue, secara udah berapa lomba gue lewatin gitu aja gara-gara gue gak bisa ngatur waktu serta inspirasi.

Seperti biasa juga, mata kuliah Fis Das II gue lalui dengan keringat dingin yang bercucuran karena dosen yang gak berhenti-hentinya menyindir, dan gue ngerasa kesindir. Heran dah, dosen sekarang demen banget nyindir anak orang, bikin tekanan batin aja. Ini sih namanya dikade sama senior angkatan 70-an, whuahaha. Nanti dah kapan-kapan gue ceritain 'pengkaderan' gue sama angkatan 70 ntu.
Akhirnya kuliah selesai dengan meninggalkan banyak catatan di binder gue. Gue pun membereskan, lalu bergegas enyah dari kelas. Pas gue berdiri dan melongok bangku yang gue dudukin.

Astajimmm...
Ada bercak-bercak merah hampir seluas bangku itu. Otomatis gue panik dan duduk lagi.
Plan A (mikir sendiri) : minjem jaket Dea buat nutupin 'itu' gue. Tapi Dea bilang, dia lagi dingin, walau ngedumel, yasudalah...
Plan B (saran Anik)    : minjem jaket anak lain contohnya Galuh. Tapi malah disuruh nutupin pake tas aja. Jelas-jelas tas gue beratnya naujubilla...
Plan C (saran Rizky) : tukeran tas sama Rizky yang selempangan. Lalu gue pindah-pindahkan lah barang-barang gue yang amat sangat banyak itu.
Plan D (mikir sendiri) : cepet-cepet pulang. Cepet-cepet ganti celana.

Niat baik Zunif : "Pinjem celanaku aja."
Gue                : "Kesananya naik apa?"
Niat baik Anik  : "Sama aku aja."
Gue                : "Terus mbak Zunif sama siapa?"
Niat baik Rizky: "Sama aku aja."
Anik                : "Kalo gitu gak usah pindahin barang-barang kamu. Kan minjem bentar."
Gue                : (Dengan nurut menerima saran Anik dan mengembalikan barang-barang gue ke tempatnya.)

Tiba-tiba Dea nyeletuk.
"Emang sebanyak apa sih Dit tembusnya?"
Gue : "Banyak. Hampir satu kursi."
Dea : "Hah? Emang hari ke berapa?"
Gue : "Hari pertama. Tapi udah dari kemaren." (Coba ditelaah baik-baik kalimat gue ini)
Dea : "Coba liat dulu!"
Gue : "Banyak, bener deh!"
Dea dan kawan-kawan : "Coba liat dulu!"

Gue pun menurut. Berdiri dengan perlahan dan melongok bangku  lalu rok gue, bangkunya berbercak merah-merah, sedangkan rok gue baik-baik aja. Lalu gue pun mengamati bangku tersebut baik-baik. Dan dengan bego'nya berkata, "Ya ampun, ini mah emang dasar bangkunya kena cat merah."

Ngek.
Temen-temen gue pun bubar dengan sendirinya.


========================================================

April MOP!!!
SEMUA KEJADIAN DI ATAS BUKANLAH FIKTIF BELAKA, APABILA TERDAPAT KESALAHAN DALAM CERITANYA, TIMPUKIN AJA YANG BIKIN CERITA!!!



ps : terima kasih banyak kepada DEA ZUNIF ANIK RIZKY , kalo ada yang ga kesebut, hubungin gue.

26.3.10


Sudah sekitar dua tahunan saya menulis blog. Tapi postingan saya bisa dihitung jari saja. Itupun rata-rata hanya curhatan-curhatan aneh tidak berguna saya yang semakin menunjukkan kalau saya menye-menye dan childish. Dulu, saya menyalahkan bahwa saya tidak punya laptop, sehingga tidak bisa leluasa menulis. Dan akhirnya saya pun mendapat laptop. Tapi saya masih bisa menyalahkan bahwa saya jarang bisa mengakses internet. Padahal nyatanya, di kampus saya dan di kota yang saya tinggali amat banyak hotspot area. Memang manusia tidak pernah puas, termasuk saya.
Lalu sempat terpikir juga untuk menentukan tema blog ini. Akhir-akhir ini, menjamur blog-blog yang menyatakan diri sebagai fashion blog, diary blog, dan sebagainya. Kalau dilihat dari postingan selama ini, fashion blog amat sangat tidak mungkin bagi saya yang selalu out of fashion, dan kadang-kadang malah terlalu jadi fashion follower. Mau mengajukan diri sebagai blog yang sepenuhnya mengulas bidang kepenulisan  juga tidak mungkin, karena saya pun jarang sekali bisa mendapat inspirasi untuk membuat cerpen atau puisi yang (menurut saya) benar-benar bagus untuk dipajang di sebuah situs.
Kalaupun berisi diary atau kisah saya sehari-hari pun, saya tidak terlalu suka. Karena saya sudah terlalu mudah untuk ditebak kisah hidupnya, dan sudah terlalu banyak mengumbarnya. Lagipula, saya pun jarang bisa meng-update kisah harian saya dalam blog. Bisa jadi karena sifat melankolis saya yang mengharuskan saya untuk mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya, termasuk postingan blog. Juga karena sifat malas saya.
Untuk mengcopy-paste hal berguna dari situs-situs lain pun rasanya enggan, karena saya ingin blog saya benar-benar berisi tentang saya. (Jadi, mau saya sebenarnya apa sih?)
Bingung juga ternyata. Apalagi jika ditilik dari maksud pembuatan blog yang hanya sekedar iseng saja, ikut-ikutan saja, tapi enggan untuk serius. Belum lagi kalau dilihat dari nama blog yang menunjukkan ketidakniatan saya untuk mengeksiskan blog ini. Alamat blog pun dipersulit agar jarang yang mampu mengakses, tapi di situs apapun saya selalu mempromosikan blog ini.
Intinya, saya sedang mengalami krisis identitas akan blog saya, mungkin krisis identitas diri saya sendiri juga. Masih terlalu sedikit kemampuan untuk membuat suatu hal baru yang orisinil, namun terlalu angkuh untuk menjadi plagiat, atau sedikit terinspirasi oleh orang lain.


Mau tak mau, inilah saya, inilah blog saya.

Mimpi Bayangan Delusi


Gadis kecil itu sudah sampai di tempatmu, tempatku dulu, ---yang telah lama terlewat--- menjelma dalam sosok aku. Memandangi sekeliling tempat dulu kita pernah belajar serta diajar bersama. Memandangi satu persatu isi kelas yang tidak pernah berubah, hanya terasa sedikit lebih sempit dibanding dulu.
Dulu ia duduk di bangku tempatku terduduk, mendekap kertas ulangannya erat tanpa menyisakan celah untuk mengintip tinta merah yang tergores di salah satu sudutnya, sambil menunduk dengan pandangan penuh penyesalan dan kesedihan bagi anak sepertinya.
“Nilai kamu berapa?” tanya bocah laki-laki di sampingnya.
“Jelek,” sahutnya tanpa penjelasan.
“Sama. Aku juga jelek.”
Lalu gadis itu mengalihkan pandangan ingin tahu kepada bocah laki-laki.
“Delapan koma lima,” tambah si bocah laki-laki. Si gadis pun tersenyum nakal menunjukkan kertas ulangan matematikanya. Memamerkan nilai sembilan puluh lima yang tadinya takut tersaingi olah bocah pintar yang duduk sebangku dengannya. Dulu, yang telah lama terlewat.
“Tiga koma tiga sembilan,” sebuah suara menyambar kenanganku dari waktu dulu ke sekarang.
Aku menoleh. Bocah laki-laki itu.
“IP gue tiga koma tiga sembilan. Loe berapa?” Dean menjelaskan kepadaku dengan geram.
“Tiga koma empat tujuh,” aku menyebut angka yang lebih besar darinya, tapi aku tidak bisa tersenyum nakal seperti dulu menjawab tanyanya.
“Tetep ello yang menang. Ello bisa kuliah di universitas impian loe,” aku melanjutkan dalam sendu. Mengalihkan pandanganku ke kaki-kaki meja yang telah renta. Menangkupkan telapak tanganku ke salah satu sudut meja bergambar hati dengan tulisan ‘DA’ (Dirza love Ardean) di dalamnya. Sebuah gambar kecil yang tidak terlewat dari dulu sampai sekarang, seperti hatiku.
Dean mengambil tangan yang kutangkupkan. Meski kutahan tapi tanganku menurut dengan sendirinya. Seperti magnet yang menemukan kutub lawannya, tanganku menempel dalam genggamannya. “Dimanapun kita berpijak, bintang yang kita lihat tetap sama.”
Tiba-tiba kepalanya menyandar pada bahu sebelah kananku seperti biasanya yang sering ku lakukan dulu saat lelah. Aku merasa seperti disengat listrik sehingga tubuhku ringan serta hangat. Mendadak waktu berhenti enggan berputar untuk kami.
“Gue kangen sama masa kecil kita. Di saat semua jadi begitu mudah didapatkan,” ucapnya, yang kuiyakan dalam hati.
Aku juga rindu masa kecil kita. Masa kecil di saat semua begitu mudah membawaku bersamamu, tidak seperti sekarang.
Perlahan aku menyentuh wajahnya yang tenang memejamkan matanya. Wajahnya dingin dan keras seperti kaca, lalu tempat duduk kami pun terguncang.
Aku terbangun.
Kemudian menyadari bahwa aku masih berada dalam kereta api yang melaju serta berguncang keras dipercepat beraturan setelah kepalaku terantuk kaca yang kusandari untuk melepas lelah. Karena bahunya tidak ada untuk aku sandarkan, sekarang.
Ini sudah mimpi ke seratus empat puluh satu sejak Dean dan aku terpisah karena sekolah menengah atas kami yang tak lagi sama. Mimpi yang ke seratus empat puluh satu yang selalu menjadikan Dean sebagai pemeran utamanya. Mimpi yang ke seratus empat puluh satu dan belum termasuk mimpi sebelum aku memutuskan untuk menghitung mimpi yang terdapat Dean di dalamnya.
Mimpi yang keseratus empat puluh satu yang membuatku memutuskan untuk menjauh saja dari tempatnya, tempatku, tempat kami dulu. Meninggalkan ia, kenangan-kenangannya, cerita-ceritanya menjauh dalam gerak semu. Karena kutahu yang menjauh adalah diriku sendiri, mungkin ia juga. Namun kita tetap melihat yang lain menjauh. Mungkin Einstein memang menciptakan relativitas sebagai hukum perpisahan. Atau seperti Newton menemukan hukum gravitasi ketika sebuah apel terjatuh menimpa kepalanya. Einstein merumuskan relativitas karena perpisahannya dengan seseorang yang amat ia sayangi. Bahwa dalam perpisahan, baik yang diam ataupun bergerak, masing-masing melihat yang lain menjauh.
Perpisahan bersifat relatif. Gerak bersifat relatif. Begitupun waktu.
Tidak tahukah kamu, Dean? Aku sungguh ingin menghentikan semua dilatasi waktu ini. Agar bumi, langit, dan awan tetap disitu. Saat kamu disampingku.
Tapi semakin keras aku menentang relativitas, dilatasi, serta permutasi yang semakin menjauhkanku darimu. Semakin keras pula pada akhirnya aku terjatuh ke kenyataan. Bahwa kamu hanya bisa hadir dalam mimpi. Dalam bayangan. Dalam delusi. Dan aku sudah sangat ikhlas. Sudah sangat menyerah kepada Tuhan untuk memutuskan suatu hari kau akan hadir dalam nyata atau tidak.
Karena itu aku pergi ke ujung lain dari Pulau Jawa.
Aku menghempaskan bayangannya dari rembang malam yang kutatapi dari kaca jendela. Mengalihkan perhatianku dengan menyusup ke dunia maya. Membuka account facebookku.
Terdapat namanya di antara pemberitahuan baruku.
Dirza Yuanita : “Meski bumi yang kita pijak berbeda. Bintang yang kita lihat sama.”
Ardean Wijaya : “???”
Dirza Yuanita : “Karena cita-cita dan (semoga) cinta yang kita tuju sama.”
Ardean Wijaya : “Bukan semoga, tapi akan jadi nyata. Sedikit lagi.”
Aku tersenyum membaca komentar terakhir di statusku. Lalu aku pun mengetik pengganti rentetan komentar status antara aku dan dia. Sambil menunggu komentar pertama yang berasal darinya.
Dirza Yuanita : “Aku harap DA itu tidak hanya masih ada di bangku SD kita, tapi juga ada di hatimu.”


29 Januari 2010
She has been writing these story with criying in every word, every memory

25.2.10

Unsaid Confession

My Confession
Afgan


your smile brings light into my days
the tought of you ,warms my night
to hold you in my arms ,
even in my dreams it feels so right loving you

you never see the way i look into your eyes
you never realize the love i feel inside
pain and sorrow that haunted me
cause words i've left unsaid to you

now you found someone else to love
deep in my heart, my love won't fade away
to hold you in my arms
even in my dreams it feels so right loving you




=============================================
even in my dreams it feels so right loving YOU
meski dalam mimpi, semua tampak nyata
AKU SAYANG KAMU 

but i've left that words unsaid, till now

17.2.10

Tujuh Titik dua Lima

kisah-kisah bego jaman SMA yang nggak disangka bisa mendapat juara II Lomba Cerpen KaWanku.



Aku tulis ini karena kamu udah terlalu bodoh, Mitha. Kebodohan kamu bahkan lebih dari idiot kelas kakap sekalipun. Seperti kamu tidak punya IQ di atas 135 saja. Seperti kamu tidak punya predikat bintang kelas saja. Seperti kamu bukan cewek most popular, important and smart di se-antero SMA kamu saja.
Tapi kenapa lagi-lagi kamu lakukan hal-hal bodoh buat pangeran tampan otak udang itu? Lagi-lagi mempermalukan diri kamu sendiri untuk cowok dungu yang tidak bisa sedikitpun memandang kamu.
Padahal cowok-cowok lain, yang lebih darinya, juga bisa saja dengan mudahnya kamu dapatkan.
Sekarang, coba lihat sudah berapa kebodohan kamu buat karena dia.

Satu.
Hal terbodoh yang pertama adalah kamu duduk tepat di bangku belakangnya. Kamu tahu tidak? Dengan sekelas dengannya saja sudah merupakan kebodohan besar. Okelah, memang bukan kamu yang menentukan akan sekelas dengannya atau tidak. Tapi itu harapan kamu, kan? Itu do’a kamu di saat pergantian kelas, kan?
Lalu ketika kamu duduk di belakangnya, mata kamu, telinga kamu, beserta seluruh indra kamu tertuju padanya. Senyum-senyum sendiri dengan kelakuannya, juga ikut tertawa dengan candaannya yang ditujukan kepada teman-temannya, bukan kamu. Dan kamu sama sekali bukan bagian dari teman-temannya.

Dua.
Dengan polos, lugu, atau bodohnya kamu menuruti apapun keinginannya. Meskipun dia datang kepadamu saat butuh saja, tapi kamu, dengan senyum sumringahmu tetap melakukan apa yang dia suruh dengan sejuta harapan dia bisa lebih dekat denganmu. Tidak segan-segan kamu contekin dia, ngerjain PR-nya, bahkan menyalinkan catatan dia mengikuti gaya tulisannya yang miring italic sampai tangan kamu keriting.

Tiga.
Bahkan kamu pun bela-belain mencari info tentang idolanya, band beraliran Japanese Rok itu. Sampai kamu ikut fans clubnya, agar kamu tahu schedule perform band tersebut, agar kamu bisa menginformasikan ke dia. Belum lagi usaha kamu untuk cari souvenir-nya yang langka. Belum termasuk usaha kamu memaksakan untuk suka band itu, padahal kamu tidak pernah suka musik keras seperti itu.

Empat.
Kamu ingat, tidak?
Saat dia sakit, sampai hampir seminggu tidak masuk. Dengan polosnya kamu telepon dia. Dengan nama samaran, pula. Karena kamu tahu jelas dia tidak akan pernah mengangkat telepon darimu. Hanya agar kamu tahu keadaannya, karena kamu tidak akan pernah diijinkan menjenguknya. Khususnya oleh dia sendiri.
Ya ampun, setan bodoh macam apa yang merasuki kamu?

Lima.
Kamu, Mitha Alfiansyah, sekarang sudah benar-benar dikenal sebagai ‘cewek’nya, atau lebih tepatnya cewek yang mengejar-ngejar seorang Dannish Permana. Kamu tersihir sampai kehilangan akal sehat, dan kesadaranmu.
Bahkan, ketika muncul surat cinta untuknya. Kamulah yang dilirik mencurugakan sebagai tersangka pengirim surat cinta.
Tapi kamu dengan rasa tidak bersalah malah teriak, “Bukan gue! Bukan gue!”
Asal kamu tau, teriakanmu malah semakin membuat semua orang yakin bahwa kamulah si pengirim surat cinta.

Enam.
Sudah tahu keadaan kamu semakin terpojok, kamu masih aja kekeuh dengan segala daya usaha dan semangat juangmu yang tinggi. Kamu masih aja ikutin tiap kegiatan dia. Masih aja datang tiap pertandingan futsal dia, untuk support dia, bahkan sampai bawain makanan beserta minuman untuk dia dan timnya. Otak kamu tuh kemana sih, Tha?

Tujuh.
Kali ini kamu bukan hanya bodoh melainkan juga malu. Malu semalu-malunya. Semalu-malunya kamu di kelas, di angkatan kamu, di seantero sekolah, ini hal yang paling memalukan kamu di muka umum.
Kamu pasti nggak akan lupa, kan?
Waktu kamu didaulat jadi penulis script teater untuk HUT SMA-mu. Dimana pangeranmu itu otomatis jadi pemeran utama. Dan otomatis kamu gak akan pernah ambil bagian dalam teater tersebut, kalau saja kamu gak punya keahlian dan kenekatan untuk menulis script.
Sialnya, di hari-hari kritis menjelang pementasan, pemeran utama kedua, yang seharusnya jadi pasangan Dannish, yang seharusnya jadi putri, malah sakit dan tidak bisa pentas. Dan kamu pastinya tau, sangat tau, bahwa sebagai penulis script kamulah satu-satunya jalan keluar dari semua permasalahan tersebut. Kamu pun maju dengan percaya diri-nya, lalu salah script dengan suksesnya. Tepatnya bukan salah script, tapi terlalu mendalami karakter kamu sebagai seorang putri yang cinta mati dengan pangeran. Sampai-sampai semua orang kini tahu yang sebenarnya. Sebenarnya kamu benar-benar cinta mati sama dia.
Lalu apalagi kebodohan kamu yang kedelapan, kesembilan, kesekian kalinya. Tentu saja kebodohan berikutnya pasti akan tercipta jika kamu terus-terusan menulis catatan kebodohan ini sambil duduk memandangi motor bebek birunya yang terparkir sendirian di pojok sana. Terus-terusan memandangi motornya seakan-akan kamu ingin sekali duduk disana, diboncengnya.

Hello, Mitha!
Tidakkah kamu sadar, dari tujuh kebodohanmu ada lima kepintaran dia, sepintar-pintarnya otak udang, yang membuktikan bahwa kamu bodoh. Bahwa dia sama sekali gak merespon kamu. Bahwa harapan-harapan kamu terhadapnya benar-benar berlebihan.
1.      Dia selalu cuekin kamu habis-habisan.
2.      Dia selalu menjelek-jelekkan kamu, dan membanding-bandingkan kamu dengan cewek-cewek yang menurutnya lebih baik darimu.
3.      Dia gak pernah menyapa kamu, kecuali kamu sedang bareng teman-teman kamu, itupun temen-teman kamu yang ia sapa. Bukan kamu.
4.      Dia akan pindah kelompok kalau sekelompok dengan kamu.
5.       Dia gak akan sadar, atau minimal pura-pura tidak sadar. Bahwa setiap harinya, kamu dengan harapan yang sama, menunggunya sampai ia benar-benar pulang. Menunggunya sampai benar-benar tidak mengabulkan keinginanmu. Menunggunya sampai dia berlalu begitu saja dengan motor birunya tanpa menggubrismu.

*****

“Ta, mau pulang bareng ga?” tanyanya lagi dengan sederhana. Tapi kamu memikirkannya terlalu rumit. Dan dengan bodohnya kamu semakin menonjolkan kebodohanmu dengan menganggap ini suatu mimpi yang tak mungkin jadi kenyataan.
Ayolah, memangnya siapa dia sampai-sampai kamu tak berhak menjadikannya kenyataan. Sampai-sampai kamu kebingungan begitu untuk memutuskannya. Sampai-sampai kamu menganggap harapanmu setiap harinya ini, mimpimu setiap yang seperti ini, tidak mungkin kamu alami dua kali.
Sekarang keputusannya benar-benar ada di tanganmu, bukan di tangan dia, atau siapapun.
Sekarang hanya ada dua pilihan: mau atau tidak. Yang pada akhirnya menghasilkan dua kesimpulan: kamu mau menambah tujuh kebodohanmu, atau mau menambah lima kepintaran dia.
Atau kamu mau bertingkah sedikit pintar dengan memikirkan apa yang menyebabkan ia tiba-tiba menggubrismu. Di kenyataan sekalipun.
Lalu kamu pun menutup catatan bodoh ini dengan bodohnya, menghentikan tulisan-tulisan bodohmu ini yang semakin membodoh-bodohkan aku.
“Tentu,” jawabmu pasti dengan senyum bahagia yang sekaligus menambah daftar kebodohan kita. Karena aku dan kamu sama-sama mencintai pangeran tampan otak udang itu dengan bodohnya.
Karena aku adalah kamu, Mitha Alfiansyah.

*****



  
PS :
Bukannya mau pamer. Cuma pingin berbagi pengalaman dan kebanggaan, juga kelebay-an, soalnya udah bertahun-tahun nulis cerpen tapi jarang dimuat, apalagi juara. Hehe.
Bener-bener gak nyangka cerita sekacau ini bisa dimuat, apalagi menang lomba. Padahal ini curhat banget dan gak ada yang difiksiin. Hampir SEMUANYA kisah nyata jaman gue SMA. Nama-nama tokohnya juga diplesetin dikit, (kacau banget, kan?)

Do'akan bisa menang lagi yaaaa ;)) 
 

15.1.10

HEART's Block


HELL !!!
Sebenarnya ingin mengetik rangkaian huruf lain yang lebih rapih, indah dan sopan. Tapi selalu berujung makian yang ditujukun kepada diri sendiri.

AKU BENAR-BENAR SUDAH TIDAK BISA MENULIS !!!


Dan itu menyiksaku. Seperti memeras otak, tapi yang keluar hanya tetes-tetes kata yang semakin melantur. Seperti memaksa hati merasa sakit, tapi hatiku sudah terlanjur kebal menahan perih. Seperti mencipta kesedihan yang menusuk-nusuk, tapi sedih hanya benda tumpul yang tak bisa merobek kulitku, tak bisa membuatnya berdarah-darah.
Aku mengais-ngais inspirasi, dengan menggali gundukan puisi, diary, cerita tentang dia yang sempat ku kubur, lalu kugali, dan seterusnya. Mengingat-ingat kisah bodoh yang semakin konyol untuk diingat. Mengenang kisah bahagia yang sekarang terlihat seperti dongeng saja.




AKU SUDAH TIDAK BISA BERCERITA TENTANG DIA !!!

Karena kenangan-kenangan itu sudah habis kuceritakan, kutulis, kusebarkan, dan tak bisa diperbaharui.
Tapi kenapa seakan seluruh dunia menikmati kisah sedihku dengannya. Tapi mengapa mereka memujiku dan menyuruhku melanjutkan coretan demi coretan tentang dia.
Aku lelah berpikir. Lelah mengejar. Lelah mencari. Aku benar-benar ingin kembali ke kenyataan. Mimpi-mimpi ini sudah terlalu buruk untuk dinikmati. Namun, labirin ini sudah semakin tak memberiku jalan keluar.
Jadi jika ini mimpi buruk, maka cepat bangunkan aku ke kenyataan !
Jika ini dongeng, maka cepat carikan peri baik hati untuk melepas kutukan ini !

;;